Rayakan Hari Gizi, PIPIMM Himbau Konsumen Untuk Dapatkan Informasi Yang Benar Seputar Produk Minuman Ringan

Jakarta, 30 Januari 2015 – Seiring dengan berkembangnya teknologi pangan, saat ini konsumen dihadapkan pada pilihan berbagai produk minuman ringan, mulai dari minuman teh dalam kemasan, isotonik, sari buah, air minum dalam kemasan hingga minuman berkarbonasi/bersoda. Dalam momentum peringatan Hari Gizi Nasional yang jatuh pada 25 Januari, Pusat Informasi Produk Industri Makanan dan Minuman (PIPIMM) mengadakan acara media briefing untuk membahas isu seputar KEAMANAN PANGAN PRODUK MINUMAN UNTUK KESEHATAN MASYARAKAT. Hadir sebagai pembicara: Ir. Tetty Helfery Sihombing – Direktur Standarisasi Produk Pangan, BPOM RI, Prof. Made Astawan – Ahli Teknologi Pangan dan Dewan Pakar PIPIMM, Dr. dr. Lucky Aziza Bawazier, Sp.PD-KGH – Perhimpunan Nefrologi Indonesia.

UU no. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan terkait dengan Pengamanan Makanan dan Minuman menyebutkan bahwa makanan dan minuman yang dipergunakan untuk masyarakat harus didasarkan pada standar dan/atau persyaratan kesehatan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berperan sebagai otoritas yang bertanggung jawab untuk memastikan keamanan produk makanan minuman di Indonesia sesuai standar yang diakui dunia maupun standar pemerintah RI.

Ir. Tetty Helfery Sihombing – Direktur Standarisasi Produk Pangan, BPOM RI menjelaskan: “Berkaitan dengan Peraturan Kepala BPOM RI tentang Pengawasan Pemasukan Pangan Olahan, telah diatur bahwa setiap orang yang memasukkan pangan olahan ke dalam wilayah Indonesia bertanggung jawab atas keamanan, mutu, dan Gizi pangan olahan tersebut. Hal ini juga didukung dengan Peraturan Pemerintah tentang Keamanan, Gizi dan Mutu Pangan. Untuk itu dapat disampaikan bahwa semua produk minuman yang beredar di pasar Indonesia yang telah mendapatkan ijin edar BPOM berupa nomor MD (untuk produk dalam negeri) ataupun ML (untuk produk luar negeri), merupakan produk yang telah melewati rangkaian proses pemeriksaan dan pengujian yang ketat dan dinyatakan memenuhi kaedah standar mutu dan keamanan pangan yang berlaku.”

Suroso Natakusuma, Ketua Umum Pusat Informasi Produk Makanan dan Minuman (PIPIMM), menambahkan: “Di era komunikasi yang terbuka ini, informasi seputar makanan dan minuman beredar begitu cepat dan masyarakat kerap kali menjadi bingung. Isu keamanan produk pangan serta dampak kesehatan dari mengkonsumsi produk makanan dan minuman merupakan isu yang sangat penting dan oleh karenanya masyarakat harus mendapatkan informasi yang benar yang didukung dengan data yang akurat dan komprehensif.”

 

Bahan Tambahan Pangan Pada Produk Minuman Ringan

Banyaknya informasi yang beredar di masyarakat adalah tentang Bahan Tambahan Pangan (Food Additive) yang ditambahkan ke dalam produk minuman ringan, seperti pemanis buatan, pengawet, pewarna, dan juga karbonasi (CO2) yang dipakai dalam minuman bersoda, sering kali dianggap dan dicurigai  sebagai penyebab meningkatnya risiko berbagai penyakit tidak menular, seperti kerusakan ginjal, penyakit diabetes, bahkan obesitas.  Sesungguhnya tidaklah demikian.

 

Profesor Made Astawan, Pakar Teknologi Pangan dan Gizi menjelaskan: “Food Additive atau BTP merupakan bahan yang sengaja ditambahkan dalam jumlah sangat sedikit ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan. Tapi jangan takut dulu ketika mendengar BTP, karena harus dibedakan antara bahan kimia yang terkategori food grade dan non-food grade. Semua BTP merupakan bahan kimia dengan kategori food grade, yang memang telah diuji keamanannya dan mendapatkan pengakuan dunia sebagai bahan yang aman untuk dikonsumsi. “

Terkait dengan karbonasi atau gas CO2 yang juga banyak menuai kontroversi, Prof. Made kembali menegaskan: “Yang membedakan minuman bersoda dengan minuman ringan lainnya adalah adanya gas CO2 atau karbondioksida yang ditambahkan ke dalamnya. Hasil kajian JECFA (Join Expert Committee on Food Additives) telah menetapkan bahwa level ADI (Acceptable Daily Intake) untuk CO2 adalah “not specified”, artinya tidak ada kekhawatiran risiko mengenai penambahan CO2 ke dalam minuman.”  Aceptabte Daily Intake (Asupan Harian yang Dapat Diterima) adalah jumlah maksimum BTP dalam satuan mg/Kg berat badan yang dapat dikonsumsi setiap hari selama hidup tanpa menimbulkan efek merugikan terhadap kesehatan.

“Badan POM, menetapkan bahwa CO2 merupakan bahan pengkarbonasi yang diizinkan penggunaannya pada produk pangan, yaitu  untuk membentuk karbonasi pada produk minuman. Jadi tidak perlu dikhawatirkan. Justru konsumen harusnya lebih memperhatikan muatan kalori dari semua makanan dan minuman yang mereka konsumsi. Tanpa disadari, banyak makanan dan minuman lain yang per porsinya justru mengandung kalori lebih banyak dibandingkan satu porsi  minuman bersoda”, tambah Prof Made Astawan.

Penyakit Tidak Menular (PTM)

Berkaitan dengan risiko Penyakit Tidak Menular seperti diabetes, hipertensi, ginjal, bahkan obesitas Dr. dr. Lucky Aziza Bawazier, Sp.PD-KGH – Perhimpunan Nefrologi Indonesia, berpendapat: “Kondisi Penyakit Tidak Menular (PTM), muncul sebagai kondisi yang kompleks dan penyebabnya multifaktor, tidak bisa dikaitkan dengan satu penyebab tunggal, tapi lebih pada pola asupan gizi yang tidak seimbang dan tidak diimbangi dengan gaya hidup yang aktif.

 

“Contoh saja kerusakan ginjal. Kerusakan ginjal terjadi dari berbagai faktor, faktor sederhana seperti kurang minum, sering menahan buang air kecil, hingga konsumsi obat pun bisa menjadi pemicu kerusakan ginjal. Jadi kondisinya kompleks dan tidak bisa dikatakan disebabkan oleh faktor tunggal”, jelas Dr. dr. Lucky.

 

Suroso NatakusumaKetua Pusat Informasi Produk Industri Makanan dan Minuman menutup diskusi dengan penekanan bahwa perlu adanya upaya kolektif untuk mengedukasi masyarakat. “Kami terus mendorong para produsen untuk aktif mengedukasi masyarakat untuk mengenal kandungan gizi dalam produk mereka, namun di sisi lain konsumen juga dapat ikut aktif meningkatkan pengetahuan, salah satunya dengan cermat membaca label gizi pada kemasan produk.”

 

Mari lebih cermat mengenali produk yang kita konsumsi dengan mencari informasi yang benar dan teruji. Pastikan untuk menjalankan gaya hidup dengan asupan gizi seimbang disertai dengan aktifitas fisik yang cukup. Kebiasaan sederhana tersebut bisa menjadi awal hidup yang sehat dan bugar. Selamat Hari Gizi Nasional!

1 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *